
Muhasabah tidak semestinya menunggu musibah. Bencana menjadi i‘tibar untuk memperbaiki diri, menjaga alam, memperkuat kepedulian, dan menata ikhtiar. Keimanan kepada takdir tidak menghapus usaha. Selagi hidup masih diberi kesempatan, mari berbenah sebelum kehilangan menjadi pelajaran.
PCM Limpung menerima kunjungan studi tiru dari PCM Bumiayu dan PCM Patean untuk berbagi pengalaman tentang manajemen ritel. Kegiatan menjadi momentum mempererat silaturahim, bertukar gagasan, mengembangkan inovasi, serta membangun kolaborasi dalam memajukan amal usaha Muhammadiyah.
Ucapan selamat disampaikan atas terpilihnya KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH. Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031. Kepemimpinan baru diharapkan membawa kemaslahatan, memperkuat ukhuwah, serta semakin mempererat sinergi Muhammadiyah dan NU dalam membangun Indonesia yang damai dan berkemajuan.
Abdul Kahar Mudzakkir mewariskan keteladanan melalui tiga pilar utama: agama, ilmu, dan pengabdian kepada umat. Kesalehan, keluasan ilmu, kesederhanaan, serta kepeduliannya kepada masyarakat menjadikan hidupnya teladan bahwa ilmu dan agama seharusnya bermuara pada kemaslahatan.
Muhammadiyah yang awalnya terbatas di Yogyakarta mulai memperluas dakwahnya sejak 1914. Setelah mendapat izin berdiri di luar Yogyakarta pada 1921, Muhammadiyah berkembang ke berbagai wilayah Indonesia hingga kini memiliki 38 PWM. Secara internasional, Muhammadiyah telah hadir di 30 negara melalui PCIM.
Santri Pondok Pesantren Ulul Albab Limpung, Muhammad Ilham Fadlan, bersiap menyetorkan hafalan Al-Qur’an 4 juz dalam sekali duduk. Hafalan tersebut telah dimulai sejak SD Muhammadiyah Limpung. Prestasi ini mendapat dukungan PCM Limpung dan Lazismu.
Siswa-siswi MAM Limpung mengadakan study ke Akademi Militer (AKMIL) Magelang untuk menambah wawasan tentang dunia kemiliteran. Kunjungan diikuti 79 siswa dan 13 guru pendamping. Kegiatan juga mengenang sosok Jenderal Soedirman, kader Muhammadiyah yang inspiratif.
Pengajian Ahad Pagi Ulil Albab menjadi kekuatan utama PCM Limpung dalam membangun kemandirian persyarikatan. Dengan jamaah sekitar 1.000 orang, gerakan ini berhasil mendukung pembebasan lahan, pendirian Toko Kita, pesantren, dan berbagai amal usaha. PCM Limpung pun tumbuh menjadi cabang percontohan.